Rumah tangga di seluruh Indonesia menghadapi risiko terbesar tertular flu burung. Untuk itu, dibutuhkan paket peralatan guna mencegah penyebaran virus mematikan itu ke seluruh rumah tangga sampai tingkat dusun.
Ketua Harian Komite Nasional Pengendalian Flu Burung dan Kesiapsiagaan Menghadapi Pandemik Influenza (Komnas FBPI) Bayu Krisnamurthi menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) untuk anak-anak (UNICEF) siap mendistribusikan Paket Pencegahan Flu Burung kepada 100 ribu dusun yang terdapat di berbagai wilayah berisiko tinggi.
Menurut Bayu, setiap paket yang diserahkan kepada pemuka dusun berisi masker, sarung tangan, spanduk jalanan, dua VCD flu burung, sabun cair, sabun batangan, stiker, pamflet, dan brosur yang menerangkan cara efektif untuk menurunkan risiko tertular flu burung.
“Para pemuka dusun kami harapkan dapat menggunakan paket peralatan itu untuk berbagi informasi mengenai flu burung dengan warga dan menunjukkan tindakan yang dapat membantu menghentikan penularan virus,” tuturnya dalam siaran persnya, kemarin.
Bayu menambahkan, Paket Pencegahan Flu Burung telah memberikan pengaruh antara lain di dusun Tenggulun Timur, Kabupaten Subang, Jawa Barat. Pemuka masyarakat di daerah itu terinspirasi oleh informasi dalam paket tersebut dan memutuskan untuk membangun fasilitas cuci tangan umum gratis.
“Cuci tangan dengan sabun merupakan cara yang efektif untuk menurunkan risiko tertular flu burung,” ucapnya.
Hingga kini, telah terdapat 99 kasus konfirm flu burung pada manusia di Indonesia, yang menyebabkan 79 diantaranya meninggal. Sekitar 55 persen kasus konfirm atau meninggal berusia kurang dari 20 tahun.(izn)
Masyarakat kembali dikejutkan dengan berbagai penemuan tentang makanan dan minuman yang mengandung bahan berbahaya. Fakta tentang efek dan akibat dari mengkonsumsi makanan ini, seakan dipandang sebelah mata oleh pihak berwenang. Juga bagi mereka yang ingin mendapat keuntungan dari sebuah perdagangan yang dilakukan.
Tak heran bila di berbagai swalayan besar dan toko kecil di seluruh Kalbar, mudah ditemukan makanan dan minuman produk Malaysia. Kejadian yang sudah lama terjadi tersebut, kembali menemukan gaung dan gugatan dari warga, seiring dengan ditemukannya bahan berbahaya dari produk tersebut.
